Danny Riedel, Supir Bus di San Francisco

1SFO

Bus pariwisata di San Francisco membawa penumpang dengan atap terbuka.

Kenalan sama Om Riedel, supir bus tim basket Indonesia di San Francisco.

Danny Riedel bukan supir bus biasa. Di balik kepiawaiannya mengemudikan bus, Danny ternyata juga seorang binaragawan. Bukan kelas amatir, tapi profesional. Danny adalah wakil Timnas Binaragawan Amerika Serikat sekaligus Kandidat Mr. Universe 2015.

Matahari belum lengkap menampakkan sinarnya. Namun, Danny Riedel tampak sudah bersiap-siap dengan bus besarnya Prevost H Series seharga 500.000 USD (Sekitar 5,7 Miliar). Dia sibuk memanaskan mesinnya. Layaknya supir bus pada umumnya, Danny bertubuh besar dan gempal. Tampilannya pun sangar. Tiga buah tato bersarang di tubuh tambunnya.

Bias sinar matahari menyelinap di sela-sela dedaunan tempat Danny memarkir bus-nya

Tapi, Danny sosok yang ramah. Dengan senyum lebar, dia menyapa seluruh anggota Tim Basket Indonesia All Star 2013 yang sudah bersiap berangkat dari hotel tempat mereka menginap. “Good morning my friend,” sapanya. Ya, Danny adalah supir bus yang sehari-hari membawa rombongan kru, pelatih dan pemain tim basket Indonesia yang sedang berkunjung ke San Francisco, California, Amerika Serikat.

Sehari-hari, Danny bekerja di Amador Stage Lines, perusahaan persewaan bus yang juga disewa tim NBA, Sacramento Kings. Tugas Danny tidak mudah, ia harus menjemput tim lawan dari Kings. Memastikan semua barang bawaan masuk bagasi dan yang terpenting, tepat waktu! Karena itu, jangan heran, banyak mega bintang NBA yang menumpang di bus-nya. Nama-nama beken seperti Le Bron James, Kevin Durrant, Blake Griffin, dan Tim Duncan pernah disupirinya. Dalam minggu yang sama, saat tim Indonesia datang ke San Francisco, sebenarnya Danny mempunyai tugas yang lebih “penting”. Yakni, menjemput tim NBA Atlanta Hawks yang bertandang ke Sleep Train Arena, kandang Sacramento Kings. Namun, Danny tampaknya lebih memilih menyupiri bus yang ditumpangi tim Indonesia. Horeee!

“Harusnya minggu ini, saya menjemput tim Atlanta Hawks di bandara. Tapi, saya memilih untuk bersama kalian, teman baruku,” ujar Danny dalam bahasa Inggris sembari tertawa lebar.

Di usianya yang sudah menginjak kepala lima, tak terlihat sedikitpun raut muka lelah ketika dia sedang menjalankan tugasnya. Danny tampak begitu energik. Namun, tidak ada yang mengira jika Danny bukan sekedar supir bus biasa. Tubuh tambunnya bukan dibiarkan membesar karena kelebihan lemak. Tubuh tambun dan berototnya memang dibentuk sedemikian rupa. Penggemar berat steak itu adalah salah satu wakil Tim Nasional (Timnas) Amerika Serikat (AS) dalam kejuaraan dunia binaragawan kategori umur 40 tahun ke atas.

Refleksi dari kaca spion saat Danny mengemudikan bus-nya.

Sebagai binaragawan, Danny memang tidak lagi muda. Ia mengawali karir binaragawan saat sudah berkepala tiga. Setelah bercerai dari istrinya yang mengalami ketergantungan narkoba, dia baru bisa fokus mengejar mimpi masa kecilnya untuk menjadi seorang binaragawan. Perjalanan yang mengubah hidupnya itu dimulai pada tahun 1998, di sela-sela pekerjaannya sebagai supir bus, Danny selalu menyempatkan diri berlatih keras, membentuk tubuh di gym lokal setempat.

Tidak hanya itu, Danny juga membikin makanannya sendiri setiap hari. Dada ayam, sayur segar dan kentang rebus menjadi asupan sehari-hari Danny. “Dalam sehari saya mewajibkan diri sendiri untuk makan minimal enam kali, dan setiap tiga jam sekali, saya harus makan makanan ringan yang kaya protein,” ungkap  fans berat tim NBA Denver Nuggets ini. Efeknya pun dasyat, badannya yang dulu berbobot 125,5 kg turun drastis menjadi 85 kg.

Determinasi dan kerja kerasnya terbayar. Selama tiga tahun berturut-turut, pada 2005, 2006 dan 2007, Danny berhasil dinobatkan sebagai pria berbadan terbaik di negara bagian California dalam World Bodybuilding & Fitness Association Masters State Championship yang digelar di Chico State University. Kemenangan berharga di tahun 2005 tersebut menjadi tiket masuk Danny ke Timnas Amerika Serikat. “Saat tahu saya terpanggil di Timnas (AS), saya menangis satu jam lebih,” kata voter senator John McCain ini

Danny Riedel di depan bus Amador Stage Lines

Tidak tanggung-tanggung, di tahun 2006 saat mewakili Amerika, dia berhasil menjadi pria dengan badan terbaik kelima di kejuaraan dunia yang digelar oleh International Bodybuilding and Fitness (IBFA) kelas Men’s Master 40+ di Las Vegas. Tahun 2005 bisa dibilang menjadi tahun yang cemerlang bagi Danny. Selain menjadi raja California, dia juga berhasil menyabet perunggu di kejuaraan nasional The America Masters National Championships.

Berkat prestasi moncernya tersebut, Danny pun kembali dipercaya menjadi wakil AS dalam ajang kontes pria maskulin terbesar di dunia, Mister Universe pada tahun 2006. Namun, kali ini Danny hanya berhasil nangkring di posisi 63 dunia. Meski begitu, dia tidak kecewa. “Yang penting, saya banyak mendapatkan pengalaman berharga selama mengikuti kontes itu,”ujar Danny sembari tersenyum.

Danny menuturkan, kepercayaan dirinya tumbuh saat berada di atas catwalk. Dia merasa jauh lebih muda saat tampil menampilkan tubuh berototnya di hadapan penonton. “Saya merasa seperti berumur 20 tahun saat tampil mempertontonkan tubuh saya,” tuturnya.

Pembenci fastfood ini mengakui harga vitamin dan suplemen untuk seorang binaragawan memang dirasa cukup mahal. Hal itu terkadang membikin Danny kesulitan untuk memenuhi kebutuhan khususnya tersebut. Namun, karena kecintaannya yang kuat terhadap sosok binaragawan, Danny rela berlatih keras dengan fasilitas seadanya. Dia juga sangat takut tubuhnya melar dan terlalu berotot. “Setiap hari aku berlatih di gym, karena aku tidak ingin badanku menjadi seperti Arnold Schwaznegger (Aktor, binaragawan, dan mantan gubernur California) yang terlihat seperti balon yang akan meletus,” kata Danny yang mengaku tidak pernah mengonsumsi steroid itu.

Di samping itu, Danny menuturkan, kepercayaan dari keluarganya juga sangat penting untuk mendukung karirnya sebagai binaragawan. “Mereka adalah inspirasi  untuk saya,” ujarnya. Danny  adalah ayah tiga anak. Putra pertamanya yang juga bernama Danny, seorang tentara angkatan darat AS yang bertugas di Afghanistan. Putra keduanya, Derrick, mengikuti jejak sang kakak dengan bergabung di kesatuan marinir angkatan laut AS. Sementara anak bungsunya Jacob masih berusia 12 tahun dan duduk di bangku SMP. Ada kisah pilu di balik keikutsertaan Danny dalam ajang kejuaraan nasional The America Masters National Championships pada 2005 silam. Di saat kejuaraan tengah berlangsung, Danny menerima kabar buruk, putra keduanya tertembak saat bertugas di Iraq. “Beruntung pelurunya tidak sampai menembus jantungnya. Sekarang, dua putra saya sudah kembali menemani saya di sini,”ujarnya.

Danny saat beraksi diatas catwalk

Danny Riedel sangat bangga pada anak-anaknya. Ia juga sempat berkisah mengenai anak sulungnya, sebelum Danny Junior (anak pertama Danny Riedel) masuk ke militer angkatan darat, ia  mengalami ketergantungan pada obat-obatan. Tapi dia berhasil membersihkan dirinya dan ketika ia dipromosikan dalam Army Basic Training, dia berkata kepada saya, ‘Aku melakukan ini untukmu. kamu bisa mengubah hidupmu, jadi aku juga akan merubah hidupku dan aku melihat seorang pemimpin sejati dalam dirimu,” ujar Danny Junior kepada Ayahnya.

Ternyata totalitas tidak hanya ditujukan pada dunia binaraga. Bagi Danny, pekerjaan sebagai supir bus juga harus dilakoni dengan serius. Dia sangat lihai mengendarai busnya. Pada 2010, Danny mengikuti kompetisi School Bus Safety Road-eo yang diselenggarakan California Association of School Transporation Officials. Tak disangka, mengalahkan 30 supir bus lainnya dia bersama dua rekannya Shannon Wise dan Michelle Derryberry mewakili Marysville Joint Unified School District berhasil menyabet juara pertama kategori pengumpul poin terbanyak. Di tahun yang sama, mewakili negara bagian California, Danny berhasil menjadi juara kedua dan berhak mendapatkan hadiah uang tunai 30.000 USD dalam kejuaraan The Northern Region, Chapter 17 “Road-eo”. Dalam kompetisi yang juga dikenal sebagai “Super Bowl”-nya supir bus ini Danny menyisihkan 6000 supir lain dari seantero Amerika. Namanya pun bertengger di jajaran supir bus terbaik di negeri Paman Sam tersebut. “Saya menyukai pekerjaan ini (menyetir bus), maka dari itu saya sangat senang ketika berhasil menjadi juara,” ujar penyuka warna biru itu.

Danny mulai menyetir di usia yang masih belia. Bahkan, saat usianya 18 tahun, dia sudah menjadi supir truk besar yang membawa muatan untuk perusahaan minuman soda ternama, Pepsi Cola. Sejak saat itu, dia mulai menggeluti dunia otomotif, khususnya truk dan bus. Hal itu sangat dirasakan tim basket Indonesia yang berada di dalam bus-nya. Jalanan kota San Francisco yang naik turun seperti bukit sama sekali tidak mengurangi kenyamanan berkendara dengan naik bus. Ketika memasuki jalanan sempit Roseville Galeria, komplek perbelanjaan luas di kota Sacramento, Danny pun dengan santainya meliuk-liukan bus besarnya untuk mencari spot parkir.

“Wih, jalan sesempit ini aja bisa dilewati ya, kalau di Indonesia mungkin susah nyari supir yang bisa gini,” ujar  Desandrew Pudyo Tinoto Adiwidjojo, pelatih tim basket putri Indonesia memuji kelihaian Danny mengemudi.

Diantara ribuan jam pengalaman menyetirnya, ada satu kenangan yang tidak bisa dia lupakan seumur hidupnya. Pada tahun 1993, di jalanan Groundsville California, bus sekolah yang dikemudikannya bertabrakan dengan sebuah truk  yang bermuatan gas. Truk tersebut meledak dan kebakaran besar terjadi di kawasan sepi ini. Di tengah kacaunya situasi, Danny dengan sigap mengevakuasi 22 murid dari Marysville Joint Unified School tersebut. Tindakan heroik Danny itu mendapat banyak pujian dan apresiasi. Gubernur California pun memberikan piagam penghargaan atas aksi kepahlawanan Danny. Media-media lokal juga tidak lupa memuat kisah menegangkan itu selama hampir 2 minggu. Bahkan situs berita local www.appeal-democrat.com menceritakan kisah Danny dalam beberapa seri. “Saya tidak bisa melupakan kejadian itu, ini adalah kejadian paling buruk dalam hidup saya selama ini,” kata Danny yang mengaku benci diet itu. Usai kejadian tersebut ia mengalami susah tidur dan mimpi buruk selalu menghantuinya selama beberapa hari.

Danny diapit Shannon Wise (kiri) dan Michelle Derryberry

Sekarang, Danny tengah bersiap untuk mengikuti kontes Mr. Universe 2015. Dia makin rajin berlatih keras. Namun, dia juga tidak lupa, tetap mengasah skill mengendarai bus-nya. Walaupun baru pertama kali mendengar nama Indonesia namun Danny langsung menyukai keramahantamahan orang Indonesia, “Tahun depan, jika anda (Tim basket Indonesia) berkunjung ke San Francisco lagi, aku berjanji akan menyupiri kalian lagi,” tuturnya sambil mengangkat jempol.

Foto-foto: Hendra Eka, Danny Riedel dan amadorstagelines.com